Lentera Senja
“Ayo,
teman-teman kita pergi ke pantai mengumpulkan kerang dan batu koral,” ujar Banu
kepada teman-temannya. Hampir setiap hari Banu pergi ke pantai bersama
teman-temannya. Pantai yang berada di bagian selatan Nusa Tenggara Timur dengan
pasir putihnya yang bersih dan keindahan alam yang masih alami. Tak jauh dari
pantai terdapat bukit-bukit yang masih rimbun dengan pepohonan. Di daerah yang
indah inilah Banu lahir dan dibesarkan.
Banu
terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia dan keluarganya memiliki hubungan
yang sangat dekat. Mereka selalu berkumpul bersama di ruang tengah setiap malam
dan saling bercerita tentang kegiatan mereka hari itu. Setiap senja tiba, Banu
dengan sigap menyalakan lentera untuk menerangi rumah kecil mereka sebelum
malam tiba. Lentera yang menyinari kegelapan dan memancarkan sinar terang ke
sekelilingnya. Seperti nama Banu yang artinya cahaya terang, serta harapan
kedua orangtua Banu kepadanya agar kelak ia menjadi seperti lentera senja yang
menyinari dan menebarkan kebaikan untuk sekelilingnya.
Banu
sangat menyukai petualangan dan senang menjelajahi alam. Sejak kecil, hampir
setiap hari ia pergi ke pantai untuk berenang atau sekedar mencari kerang dan
batu koral. Banu juga senang bermain voli di pinggir pantai bersama
teman-temannya sambil memandangi indahnya laut dan mendengar gemuruhnya suara
ombak. Selain menyukai petualangan dan senang menjelajahi alam, Banu juga suka
membantu orang lain. Siapapun orang yang ia temui mengalami kesulitan, ia
selalu berusaha membantu.
Saat
memasuki sekolah menengah atas, Banu harus berpisah dengan keluarganya karena melanjutkan
sekolah ke kota dan tinggal bersama pamannya. Setelah lulus dari sekolah
menengah atas, ia kembali ke desanya untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Pada
saat Banu pulang, ia melihat wajah ayahnya murung. Ternyata kondisi kesehatan
neneknya semakin memburuk karena fasilitas kesehatan di desanya yang masih
kurang lengkap serta kurangnya jumlah tenaga kesehatan. “Akhirnya kamu pulang
juga Nak, ayah sangat senang. Tetapi kondisi kesehatan nenekmu semakin menurun.
Ayah sedih bila memikirkannya,” kata ayah kepada Banu. “Andai saja di desa kita
fasilitas kesehatannya lengkap dan jumlah perawat serta dokternya mencukupi ya,”
lanjut ibu.
Mendengar
cerita ayahnya, Banu bertekad ingin menjadi seorang tenaga kesehatan agar kelak
bisa membantu orang lain dan tidak ada lagi orang yang menemui kesulitan
seperti ini. Ia ingin menjadi lentera senja seperti harapan kedua orangtuanya,
yang mampu menyinari dan menebarkan kebaikan untuk orang-orang di
sekelilingnya.
Tiba
saatnya Banu harus kembali ke kota untuk mengikuti ujian masuk perguruan
tinggi. Ia menemui gurunya dan menceritakan keinginannya menjadi seorang tenaga
kesehatan. “Pak, saya ingin menolong orang banyak dan melanjutkan kuliah
menjadi seorang tenaga kesehatan. Bagaimana menurut Bapak?” tanya Banu. “Wah,
engkau sangat berjiwa mulia Nak,” jawab pak guru. “Kebetulan teman saya menjadi
dosen di sebuah perguruan tinggi tenaga kesehatan di kota Surabaya. Kamu bisa
mendaftar kesana mengambil jurusan keperawatan,” lanjut pak guru. Banu pun
pergi ke Surabaya untuk mengikuti ujian masuk di perguruan tinggi tersebut dan
ia berhasil diterima.
Empat
tahun berlalu, Banu menyelesaikan pendidikan keperawatannya dengan baik dan memperoleh
gelar Sarjana Keperawatan. Setelah lulus, Banu pergi ke Jakarta untuk mencari
pekerjaan. “Akhirnya aku sudah lulus! Sekarang aku ingin pergi ke Jakarta untuk
mencari pekerjaan sebagai perawat agar orang-orang yang sakit bisa kubantu,”
kata Banu dengan semangat.
Setelah
melamar ke beberapa rumah sakit, Banu akhirnya diterima di sebuah rumah sakit terkemuka
di Jakarta. Ia dipercaya menjadi salah
satu tim perawat yang mendampingi seorang dokter senior yang sangat terkenal. “Akhirnya
aku bisa menjadi seorang perawat. Mulai hari ini aku akan bersungguh-sungguh membantu
orang-orang yang sakit,” ujar Banu.
Hingga
suatu hari di bulan Maret 2020, Banu terkejut saat menyaksikan berita di
televisi. Virus Covid-19 sudah memasuki wilayah Indonesia. “Pemirsa, virus Covid-19
sudah memasuki Indonesia,” kata pembawa berita di televisi. “Semua orang harus
menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun secara berkala,” lanjutnya. Tak
lama kemudian telepon genggamnya pun berbunyi. “Banu, ayah melihat berita di
televisi, virus Covid-19 sudah memasuki Indonesia dekat tempat tinggalmu,” ujar
ayah dengan cemas. “Ya, Ayah,” jawab Banu. “Hati-hati ya Nak disana dan jaga kesehatan.
Apalagi pekerjaanmu sangat beresiko,” kata ayah. “Namun percayalah, bila kita berbuat baik maka
Tuhan akan selalu melindungi kita. Ayah akan selalu mendoakanmu Nak,” lanjut
ayah. “Baik, Ayah. Mohon doanya selalu,” ujar Banu.
Setelah
berbicara dengan ayahnya di telepon, Banu pun teringat akan harapan kedua orangtuanya
agar ia menjadi seperti lentera senja yang mampu menebar kebaikan untuk
orang-orang di sekelilingnya. Ia merasa terpanggil untuk bisa bergabung sebagai
tenaga sukarelawan dalam garda terdepan mengatasi pandemi yang terjadi. Namun
sebagian hati kecilnya menolak dan berteriak, “Jangan! Mana mungkin
meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan, di rumah sakit besar terkemuka, dan
bekerja bersama seorang dokter terkenal,” Banu pun merasa sangat bingung. Ia
tidak ingin meninggalkan pekerjaannya namun ia merasa harus melakukan sesuatu
demi solidaritas kemanusiaan.
Beberapa
hari kemudian setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya Banu memutuskan untuk
berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia
kemudian bergabung sebagai tenaga sukarelawan untuk melawan pandemi bersama-sama
perawat dan dokter sukarelawan lainnya. “Walaupun aku meninggalkan pekerjaanku,
aku tidak akan menyesalinya karena aku harus membantu orang-orang yang terpapar
virus Covid-19,” ujar Banu.
“Dok,
ada pasien baru, gejala sesak napas dan suhu badan sangat tinggi!” seru Banu dari
kejauhan kepada dokter jaga puskesmas. “Segera siapkan semua
peralatan-peralatan yang dibutuhkan!” perintah dokter kepada Banu sambil
berlari ke arah pasien. “Baik, Dok!” jawab Banu. Ia pun dengan sigap menyiapkan
peralatan yang dibutuhkan dan membantu dokter. Setiap hari Banu harus
menggunakan berlapis-lapis pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang membungkus
badannya dengan rapat, terasa sangat panas dan menyesakkan. Setiap hari pula ia
harus rela tinggal di tempat yang disediakan khusus bagi tenaga sukarelawan
kesehatan yang jauh dari teman, sahabat dan keluarga. Sebagai tenaga
sukarelawan ia juga harus siap berpindah-pindah dari satu fasilitas kesehatan
ke fasilitas kesehatan lain yang membutuhkan tenaganya.
Dua
bulan setelah Banu menjadi tenaga sukarelawan, pandemi belum kunjung reda. Namun Banu tak pernah patah semangat untuk
menolong sesama seperti lentera senja yang menyinari dan menerbarkan kebaikan
kepada orang di sekelilingnya, seperti harapan kedua orangtuanya kepadanya. “Pandemi
belum kunjung reda juga. Tetapi aku harus tetap semangat menolong sesama!” ujar
Banu. Ia pun berharap semoga pandemi segera berakhir. Dimana tidak ada lagi
penyakit Covid-19 di muka bumi ini serta tidak ada lagi korban yang berjatuhan.
Beberapa
bulan kemudian Banu mendapat penghargaan karena ia termasuk salah satu sukarelawan
pertama yang menangani pasien Covid-19 di Indonesia. Ia juga memberi cahaya
baru yang dapat menerangi kegelapan pada masa pandemi.