Minggu, 27 November 2022

Lentera Senja

 

Lentera Senja

“Ayo, teman-teman kita pergi ke pantai mengumpulkan kerang dan batu koral,” ujar Banu kepada teman-temannya. Hampir setiap hari Banu pergi ke pantai bersama teman-temannya. Pantai yang berada di bagian selatan Nusa Tenggara Timur dengan pasir putihnya yang bersih dan keindahan alam yang masih alami. Tak jauh dari pantai terdapat bukit-bukit yang masih rimbun dengan pepohonan. Di daerah yang indah inilah Banu lahir dan dibesarkan.

Banu terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia dan keluarganya memiliki hubungan yang sangat dekat. Mereka selalu berkumpul bersama di ruang tengah setiap malam dan saling bercerita tentang kegiatan mereka hari itu. Setiap senja tiba, Banu dengan sigap menyalakan lentera untuk menerangi rumah kecil mereka sebelum malam tiba. Lentera yang menyinari kegelapan dan memancarkan sinar terang ke sekelilingnya. Seperti nama Banu yang artinya cahaya terang, serta harapan kedua orangtua Banu kepadanya agar kelak ia menjadi seperti lentera senja yang menyinari dan menebarkan kebaikan untuk sekelilingnya.

Banu sangat menyukai petualangan dan senang menjelajahi alam. Sejak kecil, hampir setiap hari ia pergi ke pantai untuk berenang atau sekedar mencari kerang dan batu koral. Banu juga senang bermain voli di pinggir pantai bersama teman-temannya sambil memandangi indahnya laut dan mendengar gemuruhnya suara ombak. Selain menyukai petualangan dan senang menjelajahi alam, Banu juga suka membantu orang lain. Siapapun orang yang ia temui mengalami kesulitan, ia selalu berusaha membantu.

Saat memasuki sekolah menengah atas, Banu harus berpisah dengan keluarganya karena melanjutkan sekolah ke kota dan tinggal bersama pamannya. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, ia kembali ke desanya untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Pada saat Banu pulang, ia melihat wajah ayahnya murung. Ternyata kondisi kesehatan neneknya semakin memburuk karena fasilitas kesehatan di desanya yang masih kurang lengkap serta kurangnya jumlah tenaga kesehatan. “Akhirnya kamu pulang juga Nak, ayah sangat senang. Tetapi kondisi kesehatan nenekmu semakin menurun. Ayah sedih bila memikirkannya,” kata ayah kepada Banu. “Andai saja di desa kita fasilitas kesehatannya lengkap dan jumlah perawat serta dokternya mencukupi ya,” lanjut ibu.

Mendengar cerita ayahnya, Banu bertekad ingin menjadi seorang tenaga kesehatan agar kelak bisa membantu orang lain dan tidak ada lagi orang yang menemui kesulitan seperti ini. Ia ingin menjadi lentera senja seperti harapan kedua orangtuanya, yang mampu menyinari dan menebarkan kebaikan untuk orang-orang di sekelilingnya.

Tiba saatnya Banu harus kembali ke kota untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ia menemui gurunya dan menceritakan keinginannya menjadi seorang tenaga kesehatan. “Pak, saya ingin menolong orang banyak dan melanjutkan kuliah menjadi seorang tenaga kesehatan. Bagaimana menurut Bapak?” tanya Banu. “Wah, engkau sangat berjiwa mulia Nak,” jawab pak guru. “Kebetulan teman saya menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi tenaga kesehatan di kota Surabaya. Kamu bisa mendaftar kesana mengambil jurusan keperawatan,” lanjut pak guru. Banu pun pergi ke Surabaya untuk mengikuti ujian masuk di perguruan tinggi tersebut dan ia berhasil diterima.

Empat tahun berlalu, Banu menyelesaikan pendidikan keperawatannya dengan baik dan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan. Setelah lulus, Banu pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. “Akhirnya aku sudah lulus! Sekarang aku ingin pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan sebagai perawat agar orang-orang yang sakit bisa kubantu,” kata Banu dengan semangat.

Setelah melamar ke beberapa rumah sakit, Banu akhirnya diterima di sebuah rumah sakit terkemuka di Jakarta.  Ia dipercaya menjadi salah satu tim perawat yang mendampingi seorang dokter senior yang sangat terkenal. “Akhirnya aku bisa menjadi seorang perawat. Mulai hari ini aku akan bersungguh-sungguh membantu orang-orang yang sakit,” ujar Banu.

Hingga suatu hari di bulan Maret 2020, Banu terkejut saat menyaksikan berita di televisi. Virus Covid-19 sudah memasuki wilayah Indonesia. “Pemirsa, virus Covid-19 sudah memasuki Indonesia,” kata pembawa berita di televisi. “Semua orang harus menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun secara berkala,” lanjutnya. Tak lama kemudian telepon genggamnya pun berbunyi. “Banu, ayah melihat berita di televisi, virus Covid-19 sudah memasuki Indonesia dekat tempat tinggalmu,” ujar ayah dengan cemas. “Ya, Ayah,” jawab Banu. “Hati-hati ya Nak disana dan jaga kesehatan. Apalagi pekerjaanmu sangat beresiko,” kata ayah.  “Namun percayalah, bila kita berbuat baik maka Tuhan akan selalu melindungi kita. Ayah akan selalu mendoakanmu Nak,” lanjut ayah. “Baik, Ayah. Mohon doanya selalu,” ujar Banu.

Setelah berbicara dengan ayahnya di telepon, Banu pun teringat akan harapan kedua orangtuanya agar ia menjadi seperti lentera senja yang mampu menebar kebaikan untuk orang-orang di sekelilingnya. Ia merasa terpanggil untuk bisa bergabung sebagai tenaga sukarelawan dalam garda terdepan mengatasi pandemi yang terjadi. Namun sebagian hati kecilnya menolak dan berteriak, “Jangan! Mana mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan, di rumah sakit besar terkemuka, dan bekerja bersama seorang dokter terkenal,” Banu pun merasa sangat bingung. Ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya namun ia merasa harus melakukan sesuatu demi solidaritas kemanusiaan.

Beberapa hari kemudian setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya Banu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia kemudian bergabung sebagai tenaga sukarelawan untuk melawan pandemi bersama-sama perawat dan dokter sukarelawan lainnya. “Walaupun aku meninggalkan pekerjaanku, aku tidak akan menyesalinya karena aku harus membantu orang-orang yang terpapar virus Covid-19,” ujar Banu.

“Dok, ada pasien baru, gejala sesak napas dan suhu badan sangat tinggi!” seru Banu dari kejauhan kepada dokter jaga puskesmas. “Segera siapkan semua peralatan-peralatan yang dibutuhkan!” perintah dokter kepada Banu sambil berlari ke arah pasien. “Baik, Dok!” jawab Banu. Ia pun dengan sigap menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dan membantu dokter. Setiap hari Banu harus menggunakan berlapis-lapis pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang membungkus badannya dengan rapat, terasa sangat panas dan menyesakkan. Setiap hari pula ia harus rela tinggal di tempat yang disediakan khusus bagi tenaga sukarelawan kesehatan yang jauh dari teman, sahabat dan keluarga. Sebagai tenaga sukarelawan ia juga harus siap berpindah-pindah dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas kesehatan lain yang membutuhkan tenaganya.

Dua bulan setelah Banu menjadi tenaga sukarelawan, pandemi belum kunjung reda.  Namun Banu tak pernah patah semangat untuk menolong sesama seperti lentera senja yang menyinari dan menerbarkan kebaikan kepada orang di sekelilingnya, seperti harapan kedua orangtuanya kepadanya. “Pandemi belum kunjung reda juga. Tetapi aku harus tetap semangat menolong sesama!” ujar Banu. Ia pun berharap semoga pandemi segera berakhir. Dimana tidak ada lagi penyakit Covid-19 di muka bumi ini serta tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

Beberapa bulan kemudian Banu mendapat penghargaan karena ia termasuk salah satu sukarelawan pertama yang menangani pasien Covid-19 di Indonesia. Ia juga memberi cahaya baru yang dapat menerangi kegelapan pada masa pandemi.

Lentera Senja

  Lentera Senja “Ayo, teman-teman kita pergi ke pantai mengumpulkan kerang dan batu koral,” ujar Banu kepada teman-temannya. Hampir setiap...