Selasa, 08 Juni 2021

Cerita Fiksi : Aku, Ayahku, dan Basket


Aku adalah seorang penggemar bola basket yang duduk di kelas 9 sekolah menengah pertama. Hobiku selain bermain basket adalah menonton seluruh pertandingan basket yang ada di televisi, jaringan televisi online, maupun Youtube. NBA, merupakan liga pertandingan basket yang hampir setiap hari ceritanya kudengar sejak aku duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Pembicaraan mengenai NBA ini datang dari cerita ayahku yang konon saat mudanya sangat menyukai olahraga ini. 

"Kamu tahu kan, pemain basket yang dulu Ayah suka Michael Jordan.. Ada film dokumenternya di Netflix.. Kamu sudah nonton?" tanya Ayah kepadaku. 

"Belum lah Yah, mana sempat, aku sedang banyak tugas," jawabku. 

"Memangnya Ayah sudah nonton?" tanyaku lagi.

"Belum, Ayah mau nontonnya sama kamu ah biar seru," lanjut Ayah. 

Kira-kira begitulah pembicaraanku dengan ayah hampir setiap harinya. Setiap kami menyaksikan pertandingan basket, kami saling mengomentari pemain, pelatih dan jalannya pertandingan. Tak jarang kami berbeda pendapat dan saling berbeda pemikiran. Namun hal itu sangat seru, aku jadi banyak mengetahui soal pertandingan basket lebih banyak lagi.

Ayahku juga sangat mendukung setiap aku mengikuti pertandingan basket. Ayah selalu duduk di baris paling depan, bahkan terkadang ia berdiri sambil menyemangatiku dari bangku penonton. 

Hingga pada suatu hari aku terjatuh dan harus menjalani operasi tangan karena patah. Saat itu aku harus beristirahat total selama dua bulan lamanya. Hancur berkeping-keping semua impian dan harapanku. 

“Bagaimana, Dok? Apakah saya masih bisa bermain basket seperti sebelumnya?” tanyaku pada dokter Rio. 

 “Melihat hasil rontgen, setelah ini kamu masih bisa bermain basket lagi. Hanya harus ekstra hati-hati tidak boleh jatuh untuk yang kedua kalinya,” jawab dokter. 

“Main basket sih masih bisa, tapi untuk kembali seperti sebelumnya 100% tentu saja tidak bisa. Ada beberapa perubahan dalam struktur tulangmu, menjadi tidak lurus lagi dan juga lebih rapuh,” lanjut dokter lagi. 

Mendengar penjelasan dokter Rio aku pun menunduk sedih. 

————

“Gooo Lakers.!” teriakan Ayahku terdengar jelas diantara teriakan-teriakan ratusan penonton lainnya. 

Tidak ada yang bisa membuatku lebih semangat lagi bermain basket selain teriakan ayahku. Aku pun menangkap bola basket, memasukkannya ke dalam keranjang dan menghasilkan poin penentu kemenangan tim kami. 

Ya. Aku sekarang menjadi pemain basket LA Lakers di Amerika. Setelah mengalami patah tulang 10 tahun yang lalu, aku sempat kehilangan semangat. Berkat ayahku, yang selalu mendampingiku dan mengajarkanku untuk tetap berjuang. Berkat basket, passionku yang bisa menghalau keputusasaanku. Akhirnya aku pun berhasil bangkit untuk mengejar mimpi. 

Aku, ayahku, dan basket tak bisa terpisahkan. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lentera Senja

  Lentera Senja “Ayo, teman-teman kita pergi ke pantai mengumpulkan kerang dan batu koral,” ujar Banu kepada teman-temannya. Hampir setiap...