Minggu, 27 November 2022

Lentera Senja

 

Lentera Senja

“Ayo, teman-teman kita pergi ke pantai mengumpulkan kerang dan batu koral,” ujar Banu kepada teman-temannya. Hampir setiap hari Banu pergi ke pantai bersama teman-temannya. Pantai yang berada di bagian selatan Nusa Tenggara Timur dengan pasir putihnya yang bersih dan keindahan alam yang masih alami. Tak jauh dari pantai terdapat bukit-bukit yang masih rimbun dengan pepohonan. Di daerah yang indah inilah Banu lahir dan dibesarkan.

Banu terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia dan keluarganya memiliki hubungan yang sangat dekat. Mereka selalu berkumpul bersama di ruang tengah setiap malam dan saling bercerita tentang kegiatan mereka hari itu. Setiap senja tiba, Banu dengan sigap menyalakan lentera untuk menerangi rumah kecil mereka sebelum malam tiba. Lentera yang menyinari kegelapan dan memancarkan sinar terang ke sekelilingnya. Seperti nama Banu yang artinya cahaya terang, serta harapan kedua orangtua Banu kepadanya agar kelak ia menjadi seperti lentera senja yang menyinari dan menebarkan kebaikan untuk sekelilingnya.

Banu sangat menyukai petualangan dan senang menjelajahi alam. Sejak kecil, hampir setiap hari ia pergi ke pantai untuk berenang atau sekedar mencari kerang dan batu koral. Banu juga senang bermain voli di pinggir pantai bersama teman-temannya sambil memandangi indahnya laut dan mendengar gemuruhnya suara ombak. Selain menyukai petualangan dan senang menjelajahi alam, Banu juga suka membantu orang lain. Siapapun orang yang ia temui mengalami kesulitan, ia selalu berusaha membantu.

Saat memasuki sekolah menengah atas, Banu harus berpisah dengan keluarganya karena melanjutkan sekolah ke kota dan tinggal bersama pamannya. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, ia kembali ke desanya untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Pada saat Banu pulang, ia melihat wajah ayahnya murung. Ternyata kondisi kesehatan neneknya semakin memburuk karena fasilitas kesehatan di desanya yang masih kurang lengkap serta kurangnya jumlah tenaga kesehatan. “Akhirnya kamu pulang juga Nak, ayah sangat senang. Tetapi kondisi kesehatan nenekmu semakin menurun. Ayah sedih bila memikirkannya,” kata ayah kepada Banu. “Andai saja di desa kita fasilitas kesehatannya lengkap dan jumlah perawat serta dokternya mencukupi ya,” lanjut ibu.

Mendengar cerita ayahnya, Banu bertekad ingin menjadi seorang tenaga kesehatan agar kelak bisa membantu orang lain dan tidak ada lagi orang yang menemui kesulitan seperti ini. Ia ingin menjadi lentera senja seperti harapan kedua orangtuanya, yang mampu menyinari dan menebarkan kebaikan untuk orang-orang di sekelilingnya.

Tiba saatnya Banu harus kembali ke kota untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ia menemui gurunya dan menceritakan keinginannya menjadi seorang tenaga kesehatan. “Pak, saya ingin menolong orang banyak dan melanjutkan kuliah menjadi seorang tenaga kesehatan. Bagaimana menurut Bapak?” tanya Banu. “Wah, engkau sangat berjiwa mulia Nak,” jawab pak guru. “Kebetulan teman saya menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi tenaga kesehatan di kota Surabaya. Kamu bisa mendaftar kesana mengambil jurusan keperawatan,” lanjut pak guru. Banu pun pergi ke Surabaya untuk mengikuti ujian masuk di perguruan tinggi tersebut dan ia berhasil diterima.

Empat tahun berlalu, Banu menyelesaikan pendidikan keperawatannya dengan baik dan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan. Setelah lulus, Banu pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. “Akhirnya aku sudah lulus! Sekarang aku ingin pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan sebagai perawat agar orang-orang yang sakit bisa kubantu,” kata Banu dengan semangat.

Setelah melamar ke beberapa rumah sakit, Banu akhirnya diterima di sebuah rumah sakit terkemuka di Jakarta.  Ia dipercaya menjadi salah satu tim perawat yang mendampingi seorang dokter senior yang sangat terkenal. “Akhirnya aku bisa menjadi seorang perawat. Mulai hari ini aku akan bersungguh-sungguh membantu orang-orang yang sakit,” ujar Banu.

Hingga suatu hari di bulan Maret 2020, Banu terkejut saat menyaksikan berita di televisi. Virus Covid-19 sudah memasuki wilayah Indonesia. “Pemirsa, virus Covid-19 sudah memasuki Indonesia,” kata pembawa berita di televisi. “Semua orang harus menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun secara berkala,” lanjutnya. Tak lama kemudian telepon genggamnya pun berbunyi. “Banu, ayah melihat berita di televisi, virus Covid-19 sudah memasuki Indonesia dekat tempat tinggalmu,” ujar ayah dengan cemas. “Ya, Ayah,” jawab Banu. “Hati-hati ya Nak disana dan jaga kesehatan. Apalagi pekerjaanmu sangat beresiko,” kata ayah.  “Namun percayalah, bila kita berbuat baik maka Tuhan akan selalu melindungi kita. Ayah akan selalu mendoakanmu Nak,” lanjut ayah. “Baik, Ayah. Mohon doanya selalu,” ujar Banu.

Setelah berbicara dengan ayahnya di telepon, Banu pun teringat akan harapan kedua orangtuanya agar ia menjadi seperti lentera senja yang mampu menebar kebaikan untuk orang-orang di sekelilingnya. Ia merasa terpanggil untuk bisa bergabung sebagai tenaga sukarelawan dalam garda terdepan mengatasi pandemi yang terjadi. Namun sebagian hati kecilnya menolak dan berteriak, “Jangan! Mana mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan, di rumah sakit besar terkemuka, dan bekerja bersama seorang dokter terkenal,” Banu pun merasa sangat bingung. Ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya namun ia merasa harus melakukan sesuatu demi solidaritas kemanusiaan.

Beberapa hari kemudian setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya Banu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia kemudian bergabung sebagai tenaga sukarelawan untuk melawan pandemi bersama-sama perawat dan dokter sukarelawan lainnya. “Walaupun aku meninggalkan pekerjaanku, aku tidak akan menyesalinya karena aku harus membantu orang-orang yang terpapar virus Covid-19,” ujar Banu.

“Dok, ada pasien baru, gejala sesak napas dan suhu badan sangat tinggi!” seru Banu dari kejauhan kepada dokter jaga puskesmas. “Segera siapkan semua peralatan-peralatan yang dibutuhkan!” perintah dokter kepada Banu sambil berlari ke arah pasien. “Baik, Dok!” jawab Banu. Ia pun dengan sigap menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dan membantu dokter. Setiap hari Banu harus menggunakan berlapis-lapis pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang membungkus badannya dengan rapat, terasa sangat panas dan menyesakkan. Setiap hari pula ia harus rela tinggal di tempat yang disediakan khusus bagi tenaga sukarelawan kesehatan yang jauh dari teman, sahabat dan keluarga. Sebagai tenaga sukarelawan ia juga harus siap berpindah-pindah dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas kesehatan lain yang membutuhkan tenaganya.

Dua bulan setelah Banu menjadi tenaga sukarelawan, pandemi belum kunjung reda.  Namun Banu tak pernah patah semangat untuk menolong sesama seperti lentera senja yang menyinari dan menerbarkan kebaikan kepada orang di sekelilingnya, seperti harapan kedua orangtuanya kepadanya. “Pandemi belum kunjung reda juga. Tetapi aku harus tetap semangat menolong sesama!” ujar Banu. Ia pun berharap semoga pandemi segera berakhir. Dimana tidak ada lagi penyakit Covid-19 di muka bumi ini serta tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

Beberapa bulan kemudian Banu mendapat penghargaan karena ia termasuk salah satu sukarelawan pertama yang menangani pasien Covid-19 di Indonesia. Ia juga memberi cahaya baru yang dapat menerangi kegelapan pada masa pandemi.

Selasa, 08 Juni 2021

Cerita Fiksi : Aku, Ayahku, dan Basket


Aku adalah seorang penggemar bola basket yang duduk di kelas 9 sekolah menengah pertama. Hobiku selain bermain basket adalah menonton seluruh pertandingan basket yang ada di televisi, jaringan televisi online, maupun Youtube. NBA, merupakan liga pertandingan basket yang hampir setiap hari ceritanya kudengar sejak aku duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Pembicaraan mengenai NBA ini datang dari cerita ayahku yang konon saat mudanya sangat menyukai olahraga ini. 

"Kamu tahu kan, pemain basket yang dulu Ayah suka Michael Jordan.. Ada film dokumenternya di Netflix.. Kamu sudah nonton?" tanya Ayah kepadaku. 

"Belum lah Yah, mana sempat, aku sedang banyak tugas," jawabku. 

"Memangnya Ayah sudah nonton?" tanyaku lagi.

"Belum, Ayah mau nontonnya sama kamu ah biar seru," lanjut Ayah. 

Kira-kira begitulah pembicaraanku dengan ayah hampir setiap harinya. Setiap kami menyaksikan pertandingan basket, kami saling mengomentari pemain, pelatih dan jalannya pertandingan. Tak jarang kami berbeda pendapat dan saling berbeda pemikiran. Namun hal itu sangat seru, aku jadi banyak mengetahui soal pertandingan basket lebih banyak lagi.

Ayahku juga sangat mendukung setiap aku mengikuti pertandingan basket. Ayah selalu duduk di baris paling depan, bahkan terkadang ia berdiri sambil menyemangatiku dari bangku penonton. 

Hingga pada suatu hari aku terjatuh dan harus menjalani operasi tangan karena patah. Saat itu aku harus beristirahat total selama dua bulan lamanya. Hancur berkeping-keping semua impian dan harapanku. 

“Bagaimana, Dok? Apakah saya masih bisa bermain basket seperti sebelumnya?” tanyaku pada dokter Rio. 

 “Melihat hasil rontgen, setelah ini kamu masih bisa bermain basket lagi. Hanya harus ekstra hati-hati tidak boleh jatuh untuk yang kedua kalinya,” jawab dokter. 

“Main basket sih masih bisa, tapi untuk kembali seperti sebelumnya 100% tentu saja tidak bisa. Ada beberapa perubahan dalam struktur tulangmu, menjadi tidak lurus lagi dan juga lebih rapuh,” lanjut dokter lagi. 

Mendengar penjelasan dokter Rio aku pun menunduk sedih. 

————

“Gooo Lakers.!” teriakan Ayahku terdengar jelas diantara teriakan-teriakan ratusan penonton lainnya. 

Tidak ada yang bisa membuatku lebih semangat lagi bermain basket selain teriakan ayahku. Aku pun menangkap bola basket, memasukkannya ke dalam keranjang dan menghasilkan poin penentu kemenangan tim kami. 

Ya. Aku sekarang menjadi pemain basket LA Lakers di Amerika. Setelah mengalami patah tulang 10 tahun yang lalu, aku sempat kehilangan semangat. Berkat ayahku, yang selalu mendampingiku dan mengajarkanku untuk tetap berjuang. Berkat basket, passionku yang bisa menghalau keputusasaanku. Akhirnya aku pun berhasil bangkit untuk mengejar mimpi. 

Aku, ayahku, dan basket tak bisa terpisahkan. 




Minggu, 06 Juni 2021

Link video tugas surat pribadi, surat dinas, dan perbedaannya

Nama: Pradhika Varen Wicaksono

Kelas/Absen: 7D/25

Alamat instagram: @pradhikavarenwicaksono

Link: https://www.instagram.com/tv/CN2QCVOA5er/?utm_medium=copy_link 


Pantun

Pantun Pembuka

Jalan jalan bersama Tono

Bertemu di kota Malang

Nama saya Varen Wicaksono

Mengucapkan selamat datang 


Pantun Ucapan Lebaran

Anak kecil hobi menari 

Tapi ibadah harus rutin

Selamat hari raya Idul Fitri

Mohon maaf lahir dan batin


Pantun Penutup

SMP Labsky tempat yang bersih

Sebelum masuk sapa guru dulu

Saya ucapkan terima kasih

Semoga kita sehat selalu 





Senin, 15 Februari 2021

Ujian Surat Pribadi

                                                                                                                                           9 Februari 2021 

Mama Tanti

di Jakarta

Assalamualaikum Ma, bagaimana kabar Mama di Jakarta?

Aku harap Mama baik-baik saja di Jakarta. Aku juga baik-baik saja di USA. Jangan lupa Mama selalu jaga kesehatan di masa pandemi ini. Oh iya, aku kuliahnya sebentar lagi selesai Ma, tinggal satu tahun lagi. Kalau sudah selesai, aku nggak sabar pulang ke Jakarta untuk ketemu Mama, Papa, dan adik-adik. Supaya kita bisa makan bareng dan ngobrol-ngobrol lagi. 

Ma, aku menulis surat ini untuk mengucapkan terima kasih karena sudah merawatku sejak kecil. Aku sebentar lagi sekolahnya selesai, dan sebentar lagi akan masuk dunia kerja dan menjadi orang dewasa. Aku ingin berterima kasih kepada Mama karena sudah menjaga dan selalu peduli terhadap aku sejak kecil sampai sekarang. 

Nggak kebayang, bagaimana Mama bisa mengurus aku dari masih anak-anak sampai sekarang. Rasanya pasti capek banget, ya Ma.  Tapi Mama selalu mendukung aku setiap saat. Belum lagi kadang-kadang anaknya nakal begini hehe. Terima kasih ya Ma, selalu bimbing aku. Berkat Mama aku bisa sekolah di luar negeri. Berkat Mama juga aku bisa menjadi orang yang lebih baik karena Mama tidak pernah lelah menasihati aku. Terima kasih Ma, sudah meluangkan waktu untuk membantu aku setiap diperlukan. Terima kasih juga Ma, karena Mama selalu peduli dengan aku. Maafin aku ya, kalau kadang-kadang suka ngeyel. 

Sudah ya Ma, sampai sini dulu suratnya. Aku terharu nulis suratnya karena ingat jasa-jasa Mama. Semoga Mama dan semua keluarga di Jakarta selalu sehat walafiat. Apalagi saat pandemi ini, harus selalu menjaga kesehatan ya. Jangan keluar rumah dulu kalau tidak perlu banget ya, Ma. Jangan lupa Ma dibalas suratku.

Wassalamualaikum

Dari anak Mama di USA




       Varen


Senin, 18 Januari 2021

Surat Pribadi


Jakarta, 12 Januari 2021

Untuk temanku                                                                
Aha Abdullah Garda Muda III 
Di Budapest, Hungaria

Assalamualaikum,

Halo Aha, ini Varen. Sudah lama ya kita tidak saling berkabar. Bagaimana kabarmu sekarang? Semoga sehat-sehat selalu ya. Jangan lupa jaga kesehatan. Sekarang di sana sedang musim dingin ya? Semoga musim dingin tidak membatasi kegiatanmu disana ya. 

Aha,  kayaknya kamu senang ya sekolah di sana. Tapi disana pasti harus belajar ekstra keras karena mahasiswa yang diterima kuliah disana kan mahasiswa-mahasiswa pilihan. Belum lagi harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Jadi  sekolah di luar negeri bagaimana rasanya? Aku ingin tahu karena rencananya aku juga mau melanjutkan sekolah ke luar negeri untuk S2. 

Selama kamu tinggal di luar negeri sendiri, berarti uang yang dikirim orangtua juga harus dikelola dengan baik kan? Bagaimana caranya supaya uangnya tidak habis? Bagaimana kuliah disana dengan adanya pandemi seperti sekarang ini? Apa ada perbedaan dengan sebelum pandemi? Kalau iya, perbedaannya apa saja? Belajarnya juga gimana caranya supaya tidak ketinggalan dengan orang-orang lain Ha? Semoga walaupun sekarang sedang pandemi, sekolahnya tetap lancar dan bisa lulus tepat waktu ya, supaya kita bisa ketemu lagi. Habis itu kita bisa main game sama-sama lagi deh seperti dulu.

Sudah dulu ya suratnya, kalau kepanjangan nanti bosan bacanya. Pokoknya semangat ya kuliahnya disana, apalagi tinggal setahun lagi. Semoga selalu sehat apalagi sekarang sedang tinggi-tingginya kasus COVID-19 di Hungaria. Semangat terus ya Ha! Jangan lupa dibalas suratku. 

Wassalamualaikum

Dari temanmu di Jakarta,

Varen 








 



Selasa, 17 November 2020

Kompilasi Blog

Pada blog kali ini saya akan menulis tentang biografi saya dan keluarga, kompilasi dari beberapa blog yang sudah saya buat. 

Nama saya Pradhika Varen Wicaksono, namun saya biasa dipanggil Varen. Orangtua saya memberi nama saya Pradhika Varen Wicaksono yang diambil dari beberapa bahasa dan memiliki arti sebagai berikut: 

Pradhika - diambil dari bahasa Sansekerta, dari kata Pradhi yang artinya pintar 

Varen - dari bahasa India yang artinya anugerah

Wicaksono - dari bahasa Jawa yang berarti bijaksana

Arti nama saya secara lengkap adalah anak anugerah dari Allah SWT yang pintar dan bijaksana.
    
Hobi saya adalah bermain sepak bola. Saya pertama kali mengenal sepak bola saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Saya menyukai permainan sepak bola karena bisa menyehatkan badan dan seru. Prestasi saya dalam olahraga sepak bola adalah mengikuti kompetisi JSFL 2019, Al-Izhar Cup, dan Ar-Rahman Cup.

Hobi saya selain sepak bola adalah bermain bola basket. Saya mulai menyukai bola basket sejak kelas lima sekolah dasar, saat itu saya menyukai menonton pertandingan bola basket di sekolah. Saya juga menyukai bola basket karena dapat bermain dengan teman-teman. Bila bermain dengan teman-teman rasanya sangat seru.

Hobi saya yang terakhir adalah bermain game. Ketika bermain game saya merasa sangat senang. Selain itu bila bermain game dapat menghilangkan rasa capek karena saya merasa rileks dan seru. Tetapi ketika bermain game saya harus ingat waktu juga. Bila tidak ingat waktu, maka waktu belajar saya akan terbuang sia-sia. 

Saya memiliki pengalaman yang sangat berkesan dan tidak akan pernah terlupakan. Pengalaman tersebut adalah ketika saya mengalamani patah tulang. Ketika itu saya berumur 12 tahun atau duduk di kelas 6 sekolah dasar. Waktu itu saya jatuh dari sepeda dan tangan saya rasanya sakit sekali. Setelah pergi ke rumah sakit, ternyata tulang tanganku patah dan bengkok sehingga saya pun harus menjalani operasi tangan. Setelah operasi, tangan saya terasa lebih baik daripada sebelum dioperasi. Namun dokter mengatakan saya harus beristirahat dari semua aktivitas yang menggunakan tangan yang patah selama kurang lebih satu bulan. Alhamdulillah setelah proses operasi dan pemulihan, tangan saya normal kembali dan dapat beraktivitas seperti biasa lagi. 

Cita-cita saya ke depannya adalah bisa masuk universitas yang bagus. Saya ingin masuk universitas yang bagus karena ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan juga menambah pengalaman. 

Cita-cita saya yang lain adalah ingin menjadi pemilik klub basket/bola/e sport. Saya ingin menjadi pemilik klub basket/bola/e sport karena ketiga bidang tersebut merupakan hobi saya. 

Selain itu saya juga ingin menjadi seorang pengusaha. Saya ingin menjadi pengusaha karena ingin menjadi pemimpin suatu perusahaan dan ingin menciptakan lapangan pekerjaan. Bidang usaha yang ingin saya jalani adalah yang berkaitan dengan bidang olahraga, teknologi, ataupun makanan. 

Pengalaman saya bersekolah hingga saat ini, saya selalu bersekolah di kota Jakarta. Saya pertama kali bersekolah saat berumur satu tahun. Ketika itu saya bersekolah di preschool Tutor Time Kemang. Saya bersekolah di Tutor Time sampai umur 4 tahun. Setelah itu saya melanjutkan ke TK Al-Izhar Pondok Labu. Saat sekolah dasar, saya bersekolah di SD Al-Izhar Pondok Labu hingga lulus sekolah dasar. Saat ini saya duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas 7 di SMP Labschool Kebayoran.

Saat taman kanak-kanak, saya bersekolah di TK Al-Izhar Pondok Labu. Saya pertama kali bersekolah di taman kanak-kanak ketika berumur 4 tahun. 

Saat awal bersekolah di taman kanak-kanak, saya masih sedikit malu karena tidak lancar berbicara Bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan saat bersekolah di preschool saya lebih sering menggunakan Bahasa Inggris. Selain itu, saya juga sedikit malu karena bertemu dengan teman-teman baru. Seiring waktu berjalan, saya sudah tidak malu lagi dan mempunyai banyak teman. 

Saat bersekolah di taman kanak-kanak, saya dan teman-teman senang sekali bermain. Kami sering bermain di playground sekolah. Selain itu, kami sering sekali bermain trampolin. Kami juga senang bermain di plaza TK.

Ketika saya bersekolah di taman kanak-kanak, saya banyak mengikuti kegiatan sekolah. Contohnya bermain bersama dengan ayah dan ibu, pentas, berinteraksi dengan tamu dari luar sekolah, dan lain-lain. Kegiatan yang paling saya sukai adalah pentas kelas karena dapat tampil di depan panggung.

Setelah dua tahun bersekolah di taman kanak-kanak, saya beranjak ke sekolah dasar. Saya mulai bersekolah di sekolah dasar saat berumur 6 tahun.  Saya bersekolah di SD Al-Izhar Pondok Labu. 

Seperti saat bersekolah di taman kanak-kanak, saya harus beradaptasi di lingkungan baru di sekolah dasar. Ternyata cara belajar di sekolah dasar jauh berbeda dengan taman kanak-kanak, karena sudah mulai banyak belajar dan sudah ada ulangan. Saya beradaptasi tidak terlalu lama. Saya berusaha dengan cepat membiasakan diri belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus. Di kelas saya termasuk anak yang pintar. Nilai saya juga tergolong cukup baik.

Sejak kelas 1 sekolah dasar, saya sudah memiliki banyak teman. Ada yang sudah berteman dengan saya sejak taman kanak-kanak, dan ada juga yang baru berkenalan. Kami sering bermain sepak bola bersama di lapangan sekolah. Hingga sekarang kami tetap berteman baik. 

Di sekolah dasar, saya mengikuti beberapa ekskul. Saat kelas 1  saya mengikuti ekskul sepak bola. Lalu ketika kelas 2, saya mengikuti ekskul science. Ketika kelas 3 saya mengikuti ekskul alat musik tradisional gambang kromong. Kelas 4,5, dan 6 saya mengikuti ekskul sepak bola. 

Selama bersekolah di sekolah dasar, saya memiliki beberapa prestasi. Saya beberapa kali mengikuti lomba untuk mewakili sekolah, diantaranya lomba KMNR, cerdas cermat agama, cerdas cermat Al-Ikhlas Cup, liga sepakbola junior nasional JSFL, dan liga sepakbola Al-Izhar Cup. Saat mengikuti lomba cerdas cermat agama, kami berhasil memenangkan juara 2 antar SD se-wilayah. Saya bersama tim sepakbola juga meraih juara 3 Al-Izhar Cup saat kelas 4 sekolah dasar. Selain itu saya juga memenangkan juara 1 lomba cerdas cermat Al-Ikhlas Cup antar SD se-Jakarta. 

Saat akhir masa di sekolah dasar saya tiba, saya sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama-sama selama enam tahun. Walaupun saat ini kami bersekolah di tempat yang berbeda-beda, namun kami tetap berteman sangat baik. Kami masih bermain game online bersama dan masih rutin saling mengirim pesan lewat whatsapp. Semua kenangan menyenangkan selama di sekolah dasar akan selalu kukenang dan semoga persahabatan dengan teman-teman sekolah dasar akan abadi. 

Pada saat kelas 6 sekolah dasar, yaitu tepatnya pada bulan Februari 2020, saya mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran. Pada saat itu saya ingin masuk SMP Labschool Kebayoran karena sekolah ini merupakan sekolah ternama di Jakarta. 

Beberapa minggu kemudian, diumumkan siswa-siswi yang lolos tes masuk SMP Labschool Kebayoran, dan ternyata saya adalah salah satunya. Perasaan saya saat itu sangat senang karena bisa diterima di SMP Labschool Kebayoran yang merupakan salah satu target saya di tahun 2020. Selain itu, saya juga bangga pada diri sendiri karena untuk masuk SMP Labschool Kebayoran sangatlah sulit karena yang mendaftar kurang lebih 1.000 orang, dan yang diterima kurang lebih hanya 200 orang.

Kemudian pada tanggal 11 Juli 2020, saya mulai mengikuti acara penerimaan murid baru atau LFSD. Saat itu menandakan awal mula saya menjadi siswa baru di SMP Labschool Kebayoran. 

Saat saya menjadi siswa baru di SMP Labschool Kebayoran, saya merasakan kekhawatiran. Kekhawatiran saya adalah saya tidak bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru, teman-teman yang baru, guru-guru yang baru, dan pelajaran di sekolah menengah pertama.  Saya juga khawatir tidak punya teman, dan memiliki nilai yang kurang bagus. 

Selain memiliki kekhawatiran, saya juga memiliki harapan sebagai siswa baru. Harapan saya di sekolah yang baru adalah bisa cepat beradaptasi di lingkungan yang baru, mendapat nilai yang bagus, aktif mengikuti kegiatan di sekolah, dan berguna bagi banyak orang. Semoga harapan saya tercapai dan kekhawatiran saya hilang. 

Saya mempunyai seorang ibu yang biasanya saya panggil  Mama. Mama adalah ibu yang sangat saya kagumi.

Mama lahir di Bogor, tanggal 22 April 1979. Mama  adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Mama adalah satu-satunya perempuan dari 3 bersaudara. 

Masa kecil mama lebih banyak dihabiskan di Bogor bersama keluarganya. Hobi mamaku saat muda adalah bermain basket. Ketika itu mama berposisi sebagai guard.

Mama adalah sosok yang sangat berjasa dan tangguh bagiku, karena Beliau mengandung saya selama 9 bulan.  Mamaku mempunyai tiga anak yaitu saya, dan dua adik saya. Artinya mama mengandung selama  9x3   bulan (27 bulan). Mama merupakan wanita yang tangguh juga karena Beliau sosok yang selalu tenang dalam menghadapi masalah apapun dan selalu bisa mencari jalan keluarnya. 

Sifat mamaku adalah orang yang sangat baik karena walaupun saya tidak meminta tolong, mama selalu membantu saya  dalam keadaan apapun. Selain itu mama lucu, karena setiap hari tertawa dan akhirnya membuat aku senang. Mama juga pandai bercerita,  setiap mama bercerita selalu seru dan menyenangkan untuk didengarkan. Terkadang aku suka merepotkan mama seperti terkadang aku suka mengacau atau tidak bisa menahan emosi saat tidak bisa melakukan sesuatu, tetapi mama tidak pernah marah kepadaku.

Mama pandai memasak, kalau mama memasak saya senang karena masakannya enak-enak. Selain pandai memasak, mama juga pandai dalam pelajaran. Setiap saya tidak bisa mengerjakan soal, mama selalu menjelaskan soal-soal yang saya tidak bisa.

Mimpi mama di antaranya ingin membangun mesjid dan bisa berkeliling dunia. Ketika saya masih kelas 6 sekolah dasar, mama adalah salah satu orang yang mengharapkan saya masuk SMP Labschool Kebayoran karena sekolah ini merupakan sekolah yang bagus dan ternama di Jakarta. Alhamdulilah saya bisa diterima di SMP Labschool Kebayoran. Semoga ketika besar nanti saya bisa memenuhi semua mimpi mamaku. 

Saya sayang sekali terhadap ibuku, karena selalu menjagaku dari sebelum lahir sampai sekarang. Saya juga senang mempunyai ibu seperti mama karena Beliau sangat peduli terhadap saya dan adik-adik saya. Semoga saya bisa membalas semua kebaikan mama saat sudah dewasa nanti. 

Saya mempunyai ayah atau biasanya saya panggil Papa. Papa lahir di Jakarta, 23 Juni 1975. Nama lengkap papa adalah Alvin Witjaksono. Arti dari nama papa adalah Alvin berasal dari nama perusahaan tempat kakekku pertama kali bekerja. Sedangkan, Witjaksono merupakan Bahasa Jawa yang artinya bijaksana. Beliau merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Masa kecil papaku banyak dihabiskan di Sulawesi bersama keluarganya karena kakekku bekerja di Sulawesi . Saat masa sekolah dasar, hobi papa adalah bermain bola, sama seperti saya. Posisinya pada saat itu adalah menjadi defender (pemain bertahan). Pada saat masuk jenjang sekolah menengah atas, papa dan keluarganya pindah ke Jakarta.

Papa adalah sosok yang sangat berjasa bagiku karena Beliau selalu menyanyangiku dari kecil hingga sekarang. Papa selalu bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluargaku. Artinya papa sudah bekerja untuk memenuhi kebutuhan aku selama kurang lebih 13 tahun. 

Papa adalah orang yang tangguh karena berbagai masalah dihadapi dengan tenang. Selain itu papa adalah orang yang penyayang. Setiap hari papa tidak pernah marah kepadaku walaupun aku kadang-kadang suka merepotkan. Papa juga sering membantuku jika aku sedih.  

Hobi papa adalah menonton televisi, jalan-jalan, dan masih banyak lagi. Papa juga pandai sekali memasak. Selain pandai memasak, papa pandai dalam pelajaran IPS. Setiap saya menanyakan tentang pelajaran IPS, papa selalu bisa menjawab. Papa juga pandai dalam hal olahraga, hampir semua olahraga bisa dilakukannya.

Saya sayang sekali kepada papa karena telah membesarkan aku dari bayi hingga sekarang tanpa lelah. Saya juga merasa senang dan bangga mempunyai ayah yang perhatian, pantang menyerah, dan tangguh. Salah satu yang mengharapkan saya diterima di SMP Labschool Kebayoran adalah papa. Alhamdulilah saya dapat diterima di SMP Labschool Kebayoran, sehingga dapat membuat senang papa.

Selain ayah dan ibu, saya akan menceritakan tentang kakek dan nenek saya.

Kakek dari keluarga ayah saya bernama Harsojo Dihardjo. Saya memanggil Beliau Akung, singkatan dari bahasa Jawa Eyang Kakung. Beliau lahir di Surabaya, pada tanggal 30 November 1941. Sekarang Beliau berusia 78 tahun. Beliau merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. 

Akung bagiku adalah orang yang pintar. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Beliau merupakan salah satu siswa terbaik di Jawa Timur sehingga Beliau dapat diterima di ITB tanpa melalui tes.  

Akung bagiku juga sosok yang hebat.  Hal ini dibuktikan dengan kemampuan Beliau memimpin perusahaan. Hingga akhir masa kerjanya, Beliau dipercaya untuk memimpin salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pertambangan. 

Kakek dari keluarga ibu saya bernama Suharto Martosuroyo. Saya memanggil Beliau Eyang. Beliau lahir di Yogyakarta, pada tanggal 10 November 1946. Sekarang Beliau berusia 73 tahun. Beliau merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. 

Sama seperti Akung, bagiku Eyang pun sosok yang pintar. Beliau termasuk siswa berprestasi sehingga bisa berkuliah di ITB. Eyang pintar dalam bidang Matematika. Ketika saya kesusahan mengerjakan soal Matematika, saya sering bertanya kepada Eyang. 

Selain itu Eyang juga sosok yang baik dan penyayang. Beliau senang mengajak cucu-cucunya pergi ke mall atau travelling untuk berjalan-jalan dan makan bersama. Beliau juga senang mengobrol banyak hal dengan kami ketika kami datang untuk berkunjung atau menginap. 
  
Nenek dari keluarga ayah saya bernama Soerastri. Saya memanggil Beliau Uti, singkatan dari bahasa Jawa Eyang Putri. Beliau lahir di Salatiga, tanggal 7 Agustus 1947. Beliau merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. 

Almarhumah Uti telah meninggal dunia sejak tahun 2012. Beliau meninggal saat saya masih berusia sekitar empat tahun. Salah satu kenangan saya akan Beliau semasa hidupnya adalah Beliau sangat penyayang. Ketika saya masih duduk di bangku preschool hingga taman kanak-kanak, hampir setiap hari saya diantar dan dijemput ke dan dari sekolah. Dan kami selalu diajak makan siang serta dibelikan makanan sebelum kami diantar pulang ke rumah. 

Nenek dari keluarga ibu saya bernama Budiwidiastuti. Saya memanggil Beliau Eyang Tuti. Beliau lahir di Cimahi tanggal 29 Oktober 1952. Sekarang Beliau berusia 67 tahun. Beliau merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Sosok Eyang Tuti bagiku adalah orang yang pintar. Beliau terpilih menjadi mahasiswa lulusan terbaik di jurusannya saat berkuliah di ITB. Beliau juga pandai berorganisasi dan berpidato. Banyak organisasi yang telah diikuti, dan Beliau sering dipercaya untuk menjadi ketuanya. 

Beliau juga sosok orang yang sangat sabar, perhatian, dan penyayang. Beliau sangat sabar karena saya tidak pernah melihat Beliau marah. Beliau juga perhatian, selalu menanyakan kabar saya melalui whatsapp atau telepon. Selain itu, Eyang Tuti juga penyayang, apapun keinginan cucu-cucunya akan selalu berusaha dituruti. 

Saya sangat sayang kepada kakek dan nenek saya karena mereka selalu menyayangi saya. Selain itu mereka peduli denganku dan selalu membuatku merasa senang. Saya juga sangat kagum dengan kepintaran dan kehebatan mereka. Semoga kelak saat dewasa nanti saya bisa seperti mereka. 

Saya dan keluarga saat ini  tinggal di rumah di daerah Jakarta Selatan. Rumah ini sudah kami tempati lebih dari 10 tahun lamanya. 

Bagian depan rumahku terdapat teras depan. Teras depan tersebut biasanya digunakan untuk menerima tamu. Di teras depan terdapat tempat duduk yang terbuat dari kayu yang bisa diduduki oleh dua orang. Di teras tersebut juga terdapat meja kecil. Selain itu terdapat pula pintu berwarna coklat untuk masuk ke dalam rumah. 

Di bagian depan rumahku juga terdapat garasi dan halaman rumah. Garasi rumahku bisa menampung 4 mobil. Atap garasi rumahku terbuat dari kayu. Di samping garasi rumahku juga terdapat halaman rumah. Di halaman tersebut terdapat banyak tanaman sehingga selalu tampak asri. Salah satu tanamannya adalah pohon durian. Ketika sedang musim durian, kami sekeluarga memakan buah durian tersebut bersama-sama. Beberapa pohon lain yang ada di halaman rumahku adalah pohon jambu dan pohon palem. 

Di bagian paling depan rumahku terdapat pagar besar yang kokoh. Pagar tersebut berwarna hitam dan terdapat besi berwarna hitam yang berbentuk kerucut di atasnya. Ada juga pintu kecil pada pagar tersebut yang berwarna hitam. Jika pintu ini dibuka maka kita dapat langsung masuk ke garasi mobil. 

Di bagian luar depan rumahku terdapat jalanan yang memisahkan antara rumahku dengan rumah tetangga. Jalanan tersebut cukup lebar dan dapat dilalui dua mobil. Di pinggir jalan depan rumahku terdapat banyak tanaman di dalam pot. 

Walaupun rumahku sudah berumur 10 tahun lebih, bagian depan rumahku masih terawat dengan baik dan rapi. Lingkungan depan rumahku juga asri. Saya selalu senang tinggal di rumah ini.   














Lentera Senja

  Lentera Senja “Ayo, teman-teman kita pergi ke pantai mengumpulkan kerang dan batu koral,” ujar Banu kepada teman-temannya. Hampir setiap...